Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

Selasa, 24 Juli 2012

Wisata Medan

Wisata Medan, Bukan Hanya Istana Maimun





Mereka yang berwisata ke kota Medan, Sumatra Utara, biasanya menuju Istana Maimun, istana kebesaran Kerajaan Deli yang memang dikenal sebagai bangunan terindah di kota itu.
Namun, Kota Medan sebenarnya memiliki beberapa tempat wisata menarik dan terbilang baru.
Apalagi Istana Maimun yang mulai didirikan pada 26 Agustus 1888 dan diresmikan 18 Mei 1891 oleh Sultan Makmun al-Rasyid Perkasa Alamsyah tersebut, kondisinya kurang terawat akibat minimnya biaya yang dimiliki oleh keluarga sultan.
Beberapa tempat yang layak dikunjungi antara lain “Rahmat International Wildlife Museum & Gallery” (diresmikan tahun 1999 setelah selesai dikembangkan pada 23 oktober 2007) dan “Tjong A Fie Mansion” (mulai dibuka untuk umum pada 2009).
Menurut seorang pemandu wisata, “Rahmat Internasional Wildlife Gallery & Museum” bahkan kini menjadi tempat kunjungan wajib paket wisata ke Medan.
“Rahmat International Wildlife Museum & Gallery” adalah museum dan galeri satu-satunya di Asia yang memiliki lebih kurang 1.000 spesies satwa yang telah diawetkan dari berbagai negara. Museum dan galeri ini diresmikan pada 14 Mei 1999. Setelah dilakukan pengembangan gedung yang selesai pada 23 oktober 2007, luas gedung menjadi 2.970 meter persegi.
Museum dan galeri ini menampilkan berbagai koleksi satwa liar yang telah diawetkan dari yang terkecil hingga yang terbesar yang ditempatkan sesuai dengan habitatnya. Hewan tersebut mulai dari nyamuk, kupu-kupu, berbagai jenis ikan hingga beruang, badak, singa, macan, dan gajah.
Koleksi yang dinamai “African Big Five” menampilkan lima satwa liar paling berbahaya dan terbesar, yakni gajah, badak putih, banteng, singa, dan macan tutul.
Di ruang “Bear Room” dapat dilihat berbagai jenis beruang yang berasal dari daerah tropis hingga daerah Antartika. Sementara berbagai jenis kambing gunung dan domba liar ditempatkan secara alami pada sebuah gunung dengan tema “Mountain of Sheep”.
“Night Safari” menghadirkan suasana kehidupan satwa liar di malam hari. Pengunjung juga bisa melihat “Cats of the World” yang menampilkan berbagai jenis kucing di seluruh penjuru dunia, dan “Dry Aquarium” yang berisikan berbagai jenis satwa air.
Satwa koleksi tersebut berasal dari perburuan sah dengan konsep konservasi dengan pemanfaatan hewan yang mati di berbagai taman hewan dan kebun binatang, pemberian dan sumbangan dari berbagai kalangan, serta pembelian hewan secara sah dari berbagai negara.
Tempat ini didirikan oleh Rahmat Shah yang menjadi putera pertama Indonesia yang menerima “Internasional Conservation Award”, “Big Five Grand Slam Award”, “Dangerous Games of Afrika Award”, “World Hunting Award” dan penghargaan lingkungan hidup nasional dan internasional lainnya.
Rahmat yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Sumut adalah penggemar olahraga berburu konservasi profesional kelas dunia serta pencita alam yang telah berpetualang di berbagai penjuru dunia.
Letaknya di Jalan S Partman yang tidak terlalu jauh dari Bandara Polonia, membuat mereka yang ingin segera meninggalkan Medan bisa mampir sebentar.
Bagi penggemar wisata sejarah jangan lewatkan Tjong A Fie Mansion, yang merupakan rumah seorang tokoh multikultural dan pengusaha besar pada jamannya yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah kota Medan.
Jasanya Tjong A Fie cukup besar terhadap kedamaian dan kemakmuran di kota Medan.
Sebelumnya, rumah tersebut belum diperkenankan dibuka untuk kunjungan umum dengan alasan keamanan mengingat usianya yang sudah lebih 100 tahun.
“Tjong A Fie Mansion” sudah menjadi benda cagar budaya yang dilindungi berdasarkan Perda Kota Medan No.6 Tahun 1988 yang diperkuat dengan SK Walikota Medan No.188.342/382/SK/1989 dan No. 188.342/383/SK/2000.
Tjong A Fie memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap Kota Medan, misalnya dia turut andil dalam pembangunan Masjid Raya Al-Mashum, Istana Maimun, Kereta Api Deli (DSM), Masjid Gang Bengkok, Gereja di Jalan Uskup Agung Sugiopranoto, Balai Kota Lama, Kuil Budha China di Brayan, Kuil Hindu, dan Jembatan Kebajikan di Jalan Zainul Arifin.
Ia juga tercatat sebagai pendiri Rumah Sakit China pertama di Medan, pendiri Batavia Bank dan Deli Bank. Perkebunan yang dipimpinya memiliki lebih dari 10.000 tenaga kerja dan luas kebunnya mengalahkan luas perkebunan milik Deli Matschapaij yang dirintis oleh Jacobus Nienhuys yang dikenal dengan Peletak Dasar Budaya Perkebunan di Sumatra Utara.
Menurut situs “Tjong A Fie Memorial Institute”, pria ini lahir di provinsi Guangdong di Tiongkok pada tahun 1860. Tjong A Fie datang ke Medan dari Meixian, Guangdong pada tahun 1875 dengan hanya membawa beberapa koin perak di tangannya.
Bersama dengan saudaranya Tjong Yong Hian (1850-1911), dia berhasil membangun usaha dalam bidang perkebunan. Perusahaannya mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan.
Keberhasilannya tersebut membuat dia mempunyai hubungan yang dekat dengan para petinggi Medan pada saat itu, di antaranya Sultan Deli Makmun Al Rasjid dan pejabat-pejabat kolonial Belanda. Tjong A Fie pun lalu dilantik sebagai Kapitan China (”Majoor der Chineezen”), pemimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan Yong Hian yang wafat.
Salah satu peninggalannya yang masih terkenal hingga saat ini adalah rumahnya di kawasan Kesawan. Diselesaikan pada tahun 1900, rumahnya yang menunjukkan pengaruh campuran Art Deco-Tionghoa-Barat kini menjadi salah satu ikon kota Medan dan saat ini menjadi “Tjong A Fie Memorial Institute”.
Pengaruh Tjong A Fie tidak hanya terasa di Medan, namun juga di luar negeri seperti Penang, Singapura, Hong Kong, Tiongkok dan bahkan Amsterdam. Di Amsterdam, dia menjadi seorang pendiri Institut Kolonial yang kini bernama Institut Tropis Kerajaan (”Koninklijk Instituut voor de Tropen”).
Tjong A Fie meninggal pada tahun 1921. Nama Tjong A Fie sempat diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Medan, meski nama jalan tersebut kemudian diganti menjadi Jl KH Ahmad Dahlan.
Pada tahun 2009 diadakan eksibisi 150 tahun Tjong A Fie atau “150 tahun Tjong A Fie Heritage Exhibition” di rumah yang terletak di Jalan Kesawan (sekarang Jalan Ahmad Yani), Medan tersebut.
Melalui foto dan lukisan yang ada dapat diketahui sejarah perjuangan Tjong A Fie dalam pembangunan Kota Medan, serta sikapnya yang merakyat.
Pengunjung dapat melihat perannya dalam membangun kota Medan ketika ribuan orang mengantar jenazah Tjong A Fie saat akan dimakamkan. Ia diterima oleh berbagai golongan agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Slider(Do not Edit Here!)